Pria yang Narsis Lebih Gampang Stres


Seorang pria yang terlalu mencintai diri sendiri atau yang dikenal dengan istilah narsis dapat juga membahayakan kesehatan. Penelitian baru menemukan, bahwa narsisisme, terutama pada pria berkaitan dengan stres yang tidak sehat pada tubuh.

Narsisme ditandai dengan perasaan meningkatnya harga diri, berkurangnya empati, dan selalu berusah mengedepankan hak-haknya.

Penelitian mengenai hal ini diterbitkan pada tanggal 23 Januari 2012 dalam jurnal PLoS ONE, berdasarkan analisa terhadap 106 mahasiswa di Amerika. Para relawan tersebut terdiri dari 79 wanita dan 27 pria dengan rata-rata usia 20 tahun.

Relawan diberi kuesioner yang disebut Narcissistic Personality Inventory, yang menilai lima komponen yang berbeda dari narsisme. Narsisme terbagi menjadi 2 yaitu narsisme yang tidak sehat (eksploitasi dan hak) dan narsisme yang sehat (kepemimpinan/otoritas, superioritas/arogansi, dan kekaguman diri).

Para peneliti juga mengukur tingkat kortisol peserta, yaitu hormon pada tubuh yang bertanggung jawab untuk merespon stres. Tingkat kortisol tinggi umumnya berkorelasi dengan stres psikologis yang tinggi.

Berdasarkan data tersebut, para peneliti menemukan bahwa pria yang memiliki 2 komponen narsisme yang tidak sehat cenderung memiliki tingkat kortisol yang tinggi. Komponen narsisme yang tidak sehat pada pria dua kali lebih mungkin untuk memprediksi kortisol tinggi daripada pada wanita. Dari penelitian juga diketahui bahwa tidak ada hubungan antara 3 komponen narsisme yang sehat dengan tingkat kortisol baik pada pria maupun wanita.

Mengapa pria yang narsis lebih stres?
“Meskipun narsisme memiliki persepsi diri yang lebih, orang yang narsis juga memiliki pandangan yang rapuh terhadap diri sendiri, dan merasa perlu melakukan tindakan defensif jika superioritasnya terancam,” kata penulis penelitian David Reinhard, seorang mahasiswa pascasarjana di departemen psikologi University of Virginia di Charlottesville seperti dikutip Rabu.

“Orang dengan narsisme akan lebih perfeksionis dengan tingkat stres yang tinggi dan dapat diketahui dengan pengukuran tingkat kortisol,” kata Dr. Mark Russ, direktur layanan kejiwaan di Rumah Sakit Zucker Hillside di Glen Oaks, New York yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Mengapa narsisme mempengaruhi pria dan bukan wanita? Peniliti berspekulasi bahwa definisi sosial dari maskulinitas (dengan ciri-ciri seperti arogansi atau dominasi) mungkin berperan. Meskipun memiliki tingkat stres yang berbeda, tetapi berdasarkan penelitian baik pria maupun wanita sama-sama narsis.

@http://health.detik.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s