Pria yang Kehilangan Hasrat Seks Akibat Manopause


https://allaboutmens.wordpress.comMenopause identik dengan kaum perempuan yang mana ditandai dengan tidak lagi mengalami menstruasi. Ternyata laki-laki juga bisa menopause atau dikenal dengan manopause. Berikut 3 cerita pria yang mengalami manopause.

Diperkirakan setelah berusia 50 tahun maka 1 dari 5 laki-laki akan mengalami andropause. Gejala yang muncul seperti kelelahan, masalah memori dan kurangnya konsentrasi. Namun sebagian besar orang baru menyadari kondisi ini ketika ia sudah tidak lagi memiliki hasrat seks.

Gejala manopause atau andropause yang dialami laki-laki lebih dikenal sebagai Testosterone Deficiency Syndrome. Untuk itu beberapa orang yang mengalami manopause cenderung melakukan terapi hormon untuk mengatasi masalahnya.

Berikut ini cerita 3 laki-laki yangs mengalami manopause, seperti dikutip dariThe Sun, yaitu:

1. Dan Hegarty (56 tahun)

Hegarty yang berprofesi sebagai terapis ini telah melakukan testosterone replacement therapy selama 15 tahun untuk mengatasi manopause. Ia mulai mengembangkan gejala saat berusia 41 tahun.

Gejala yang ia rasakan adalah mudah lelah, ia bisa tertidur di mana saja, menderita nyeri otot dan penurunan libido (gairah seks). Saat itu ia belum pernah mendengar tentang menopause laki-laki, hingga ia membaca artikel yang mana gejalanya mirip seperti yang ia rasakan.

“Saya pergi ke dokter dan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan masalah prostat, diabetes, anemia, fungsi hati dan ginjal, kelenjar tiroid, kolesterol dan kadar testosteron,” ujar Hegarty.

Hegarty pun diketahui mengalami manopause dan ia diresepkan testosterone replacement therapy, hasil ini membuatnya merasa depresi serta kehilangan maskulinitas. Namun sejak melakukan terapi, ia merasa berenergi kembali dan nyeri ototnya pun hilang.

2. Red Eagle (61 tahun)

Red Eagle mulai merasa ada yang kacau di dalam tubuhnya karena mulai menderita gejala menopause saat berusia 40an tahun. Reg mengungkapkan ia sering berkeringat di malam hari dan menderita insomnia.

“Saya tidak lagi menginginkan seks, tidak memiliki energi apapun dan memori saya begitu buruk. Pasangan saya berpikir bahwa saya selingkuh karena perilaku dan kurangnya minat untuk seks,” ujar Reg.

Pada awalnya Reg berpikir penyebabnya adalah stres pekerjaan, tapi kemudian ia berpikir harus ke dokter karena ada sakit tertentu. Dokter melakukan berbagai pemeriksaan dan diketahui penyebabnya karena Reg sudah tua dan tidak ada yang bisa dilakukan.

Hingga akhirnya ia bertemu dengan Dr Malcolm Carruthers dan diketahui kadar testosteronnya di bawah normal. Ia pun diresepkan implan hormon untuk menunjang kembali memori, mengatasi depresi dan meningkatkan kembali hasrat seksnya.

3. Paul Pennington (49 tahun)

Awalnya Paul berpikir ia mengalami depresi akibat terlalu banyak mengalami tekanan dan stres dalam kehidupannya. Namun ketika ia ke dokter dan diberikan obat anti-depresi, tak ada kondisi membaik yang dialaminya.

“Saya pikir terkena depresi, brain fog, kehilangan memori, ukuran pinggang meningkat dan kurangnya hasrat seks akibat dampak psikologis dari peristiwa-peristiwa dalam hidup saya,” ujar Paul.

Berkurangnya hasrat seks ini turut mempengaruhi hubungannya dengan pasangan. Paul merasa malu karena ia tidak merasakan keinginan dan hasrat untuk seks serta tidak bisa mengalami ereksi.

Paul pun akhirnya memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter, hasil tes darah serta urine menunjukkan kadar testosteronnya turun dan ia memiliki Testosterone Deficiency Syndrome.

@http://health.detik.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s