Penyebab seseorang biseksual


Seksualitas tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, kendati di negara yang masih tabu membicarkannya. Belakangan ini kasus penyimpangan seksual justru makin marak dan banyak menjadi buah bibir, tapi jarang dibahas secara ilmiah.

Manusia tidak selamanya lurus dan normal. Karena pastinya ada saja yang memiliki kecenderungan tidak normal. Salah satu ketidaknormalan manusia dapat dilihat dari perilaku seksualnya. Kelainan seks terjadi pada batin atau kejiwaan seseorang. Karena itu, secara fisik mereka sama dengan orang-orang normal lainnya.

Pada tahun 1970-an, sebagian masyarakat Barat menganggap perilaku biseks sebagai gaya hidup baru. Namun setelah dikumandangkannya perilaku biseks sebagai faktor risiko tinggi terkena penyakit AIDS, gaya semacam itu surut perlahan-lahan. Bahkan, ditinggalkan oleh para penganutnya.

Lantas timbul pertanyaan. Apa yang jadi penyebab mereka menjadi biseksual?

Sampai saat ini, para ahli masih menduga-duga apa yang menyebabkan seseorang menjadi biseksual. Sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisis menyatakan, usia 4-6 tahun merupakan fase paling menentukan untuk terjadinya penyimpangan seksual. Saat itu, anak masih dalam fase genital. Masa di mana anak menyukai memainkan genitalnya dan mendapatkan suatu kenikmatan. Perilaku anak pada masa genital itu masih tergolong normal, asalkan mereka dapat melaluinya dengan baik. Tetapi akan berbahaya jika proses identifikasi pada dirinya mengalami kegagalan.

Sementara ahli lain berpendapat, biseksual terjadi justru pada saat masa pubertas. Pada masa pubertas, terjadi hubungan persahabatan yang mendalam, perasaan romantis yang kuat, dan pengalaman-pengalaman seksual yang baru. Misalnya, pada anak laki-laki yang membandingkan besar alat kelaminnya, saling melakukan onani, dan lain-lain. Pengalaman ini memberikan dampak, ternyata teman-teman lelaki pun bisa memberikan kegembiraan seksual. Pengalaman ini terkadang ingin diulangi setelah ia menikah dengan wanita.

Demikian halnya dengan wanita. Hubungan yang terlalu dekat dan dalam dengan teman sesama jenis, dapat menyebabkan terjadinya hubungan terlalu jauh dan saling ketergantungan. Di saat ia menikah dengan pria, sesekali teringat akan teman wanitanya yang begitu sayang pada dia. Apalagi jika perkawinannya gagal, kemungkinan menjadi biseksual menjadi lebih besar.

Penelitian tentang biseksual menunjukkan. Wanita biseksual menyatakan bahwa mereka mendapatkan kebutuhan emosi yang berbeda dan lebih baik dari partner wanitanya ketimbang yang diberikan oleh pria. Demikian pula penjelasan dari pria biseks. Hanya saja pada pria biseks unsur keperluan variasi dan kepentingan kreativitas lebih sering diungkapkan.

Tindakan pencegahan agar tidak terjerumus ke dalam lingkungan biseksual, setidaknya ada tiga. Pertama, jika menjalin persahabatan dengan sesama pria atau sesama wanita, janganlah sampai menimbulkan kebergantungan dan ketertutupan. Apalagi jika diduga, ia punya kecenderungan menyukai sesama jenis. Kedua, hindari ajakan untuk menambah pengalaman seksual. Misalnya, melakukan hubungan sejenis sebagai variasi dan lain-lain. Ketiga, hindari pergaulan yang menjurus ke arah biseksual. Apapun alasannya, pergaulan itu merupakan pergaulan yang sakit.

source : http://www.kompasiana.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s