Fakta tentang Kulup Penis


cqzgrnlvyaarbbh

Kulup menjadi bagian yang harus dibuang saat sunat. Kebanyakan orang Amerika menyunati anaknya untuk alasan nonreligius untuk mencegah dari gangguan kesehatan yang mematikan. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir banyak yang menemukan manfaat membiarkan organ seksual pria ‘berpakaian lengkap’.

Menurut laporan 2015 yang diterbitkan di Mayo Clinic Proceedings, sunat di Amerika menurun. Para peneliti menemukan menurunnya penyunatan dari 83 persen pria di tahun 1960 menjadi 77 persen pria di tahun 2010.

CBS News mengatakan persentase rata-rata laki-laki antara usia 14 dan 59 tahun yang disunat sekitar 81 persen dari Amerika populasi. Apa sebabnya tren sunat berubah?

Beberapa ilmuwan mengubah sikap mereka tentang sunat dan menemukan bukti mempertahankan organ intim pria ‘berpakaian lengkap’ mungkin risikonya tak sebesar yang kita pikirkan sebelumnya.

Berikut beberapa fakta tentang kulup yang disampaikan para ilmuwan seperti dilansir medicaldaily.

1. Tak bisa ditarik sejak kecil

Ketika bayi laki-laki lahir, kulup hampir selalu menyatu ke glans penis, yang berarti itu tidak bisa ditarik dari kepala Mr P (penis). Bagi kebanyakan anak laki-laki, kulup mulai terpisah dari kelenjar sekitar pubertas, yang memungkinkan untuk bisa ditarik.

Bagi banyak orangtua, fakta kulup tidak bisa ditarik ketika anak mereka lahir tampaknya menjadi alasan disunat. Psychology Today menyatakan, bayi laki-laki yang tidak disunat dapat dibersihkan dengan benar selama mandi atau antara penggantian popok; membersihkan daerah tersebut dengan air dapat mencegah iritasi.

Tetapi bukan berarti orangtua harus mencoba menarik kulup karena dapat menyebabkan robek, nyeri, dan pengembangan infeksi yang tidak disengaja.

2. Terkadang sama sekali tak bisa ditarik

Phimosis adalah suatu kondisi di mana kulup tidak pernah berpisah dari glans penis, sehingga sulit untuk menarik kulit tanpa rasa sakit. Menurut Departemen Urologi di University of California, San Francisco phimosis dapat berkembang ketika dipaksa ditarik saat kanak-kanak yang menyebabkan jaringan parut dan infeksi.

Bagi lelaki yang didiagnosis dengan phimosis patologis sering mengalami gejala seperti iritasi penis, perdarahan, kesulitan buang air kecil, buang air kecil sakit dan ereksi, dan infeksi berulang seperti infeksi saluran kemih. Dokter biasanya mengobati ini dengan salep kortikosteroid topikal, atau dalam beberapa kasus memilih sunat.

3. Ada risiko kanker, tapi itu tidak terlalu tinggi

Menurut American Cancer Society, pria yang tidak disunat saat kanak-kanak berisiko sedikit terkena kanker penis daripada lelaki yang disunat. Para peneliti juga menemukan sunat saat dewasa tidak mengurangi risiko kanker penis. Dalam beberapa kasus, bahkan meningkatkan risiko.

Beberapa percaya ketika seorang pria tidak disunat, dia berisiko lebih tinggi meningkatkan risiko kanker penis. Lainnya berpikir pria yang memiliki kulup utuh lebih mungkin untuk menjadi terinfeksi dengan virus papiloma manusia (HPV), yang telah dikaitkan dengan kanker pada pria dan wanita.

Namun, dokter menekankan bahwa risiko pengembangan kanker penis, apakah Anda disunat atau tidak, relatif rendah. Dr Brian Morris, seorang peneliti di University of Sydney mengatakan, pria yang kemungkinan terkena kanker penis adalah satu dari 1.000 pria yang tidak disunat dan satu di 50.000 untuk laki-laki yang disunat.

4. Tingkatkan risiko HIV?

Setelah tiga studi yang dilakukan peneliti di Afrika ditemukan sunat anak laki-laki efektif mencegah HIV ketika vaksin efektif hanga 60 persen, banyak mulai percaya sunat sebagai tindakan preventif yang sangat menguntungkan.

Menurut Psychology Today, temuan tersebut juga berisiko. Keyakinan sunat mencegah HIV mendorong banyak pria yang disunat di negara-negara Afrika melupakan memakai kondom. Ini jelas tidak benar. Tips terbaik selalu memakai kondom, tanpa memandang status sunat Anda.

5. Pria yang disunat sedikit mengalami kenikmatan seksual

Sebuah studi 2013 yang dilakukan oleh peneliti Belgia menelit laki-laki yang disunat dan tidak disunat laki-laki, dan mereka disurvei untuk sensitivitas bawah serta intensitas orgasme.

Dari 1.369 pria yang diwawancarai di atas usia 18 tahun, 310 disunat, sementara 1.059 pria tidak. Mereka diminta, pada skala 0-5, betapa sensitif penis mereka saat berhubungan seks.

Ternyata pria yang tidak sunat melaporkan tingkat sensitivitas yang lebih tinggi sensitivitas. Secara keseluruhan, sensitivitas rata-rata untuk seorang pria yang tidak disunat ditemukan 3,72, sedangkan laki-laki yang disunat melaporkan rata-rata 3,31.

“Ini bukan perbedaan yang sangat besar dalam sensitivitas, tapi perbedaan yang signifikan,” kata Dr Piete Hoebeke, dari University Hospital Ghent.

Pria yang tidak disunat juga melaporkan orgasme lebih intens, sedangkan pria yang disunat lebih cenderung merasa sakit atau mati rasa di daerah khusus ini karena jaringan parut

6. Tidak atau kurang bersih

Banyak pihak yang meyakini tidak disunat berarti pria itu kotor, tetapi sebagian menemukan satu-satunya yang membuat orang yang kotor adalah mengabaikan kebersihan sama sekali.

Selama daerah tersebut dibersihkan secara teratur, tidak ada cara infeksi akan berkembang. Bahkan, mandi teratur juga membantu menurunkan risiko HPV, dan bahkan mungkin menyingkirkan karsinogen perokok terbawa dalam urine mereka.

Gimana menurut kalian guys? jangan lupa untuk menuliskan pengalaman pribadi kalian soal kulup penis di kolom komentar.

Sumber : http://health.liputan6.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s