Kenapa pria straight melakukan hubungan seksual sesama pria


tumblr_oionec2kx11tuh4e9o1_250Beberapa waktu lalu Joe Kort, Ph.D menulis sebuah blog post di Huffington Post tentang video musik berjudul “All-American Boy” karya Steve Grand, dimana kisah pada klip video bercerita tentang seorang pria gay yang jatuh cinta pada pria straight dan dalam satu scene mereka berciuman.

Dalam tulisan ini Kort, sebetulnya mengupas tentang fenomena ketertarikan pria gay secara romantik dan seksual terhadap pria straight, namun sebuah isu yang berbeda justru terangkat lewat komentar-komentar yang masuk. Seperti deja vu ketika film “Brokeback Mountain” menjadi salah satu box office, pria gay yang tertarik pada sesama pria dianggap sah, namun sebaliknya apakah mungkin pria straight juga memiliki ketertarikan baik secara seksual ataupun romantik terhadap sesama pria? Pertanyaan inilah yang muncul dan menjadi isu hangat pada tulisan Joe Kort tersebut.

Joe Kort adalah seorang psikoterapis, seks terapist bersertifikasi sekaligus pendiri Center for Relationship and Sexual Health. Menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini Kort pun mengungkapkan bahwa ia sering mendapatkan pasien pria yang datang kepadanya karena rekomendasi dari terapist mereka. Para pria ini mengaku pernah melakukan hubungan seks sesama pria, sesekali membuka situs porno khusus gay, namun mereka tidak merasa bahwa diri mereka termasuk golongan pria gay ataupun biseksual. Mereka hanya ingin dibantu untuk menemukan jati diri yang sebenarnya, meskipun melakukan aktifitas seksual dengan sesama pria namun para pasien ini menemukan bahwa label gay dan biseksual tidak sesuai karena mereka tidak memiliki ketertarikan secara romantik dengan sesama pria. Just sex!

Menurut Kort, memang ada sekelompok pria yang melakukan hubungan seksual sesama pria namun mereka sama sekali bukan gay ataupun biseksual. Pernyataan Kort ini ditentang oleh kalangan yang justru datang dari kaum gay yang tertutup. Kelompok ini menuduh Kort menyinggung keberadaan mereka yang ingin menyembunyikan identitas ke-homo-an pada diri mereka agar dapat menjalankan kehidupan ‘normal’ seperti menikah dan berkeluarga. Namun Kort menegaskan bahwa kelompok pria heteroseksual yang dia maksud bukanlah para pria gay tertutup ini.

Menurutnya, pria gay, apakah terbuka ataupun tertutup, memiliki perkembangan mental dan identitas diri yang khas sebagai seorang homoseksual, berbeda dengan kelompok pria ini. Mereka tidak menunjukkan perkembangan mental dan identitas diri sebagai homoseksual. Mereka pun sama sekali tidak memilik ketertarikan secara romantik selain hubungan fisik belaka dengan sesama pria.

Selanjutnya Joe Kort mengangkat temuan-temuannya lewat website Straight Guise yang ia luncurkan sejak tahun 2008. Website ini terbuka buat siapa saja yang ingin membaca, menulis komentar dan berdialog seputar pria yang berhubungan seks sesama pria. Lewat website ini terungkap banyak alasan kenapa terjadi hubungan seksual antar pria dan sebagian dari alasan-alasan tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan orientasi seks homoseksual ataupun biseksual. Kort pun mengelompokkan beberapa tipe dan alasan yang paling sering mendorong terjadinya hubungan seksual antar pria sebagai berikut :

  1. Childhood sexual abuse. Ekspresi yang disebabkan karena pengalaman pelecehan seksual (sexual abuse) di masa kecil atau biasa disebut “homosexual imprinting”. Mereka adalah pria heteroseksual yang sama sekali tidak memiliki orientasi homoseksual. Pria-pria ini tidak memiliki hasrat seksual terhadap pria ataupun terangsang oleh sesama pria. Namun mereka secara kompulsif menghidupkan kembali pengalaman atau trauma masa kecil dengan melakukan hubungan seks sesama pria. Ini dilakukan untuk melepaskan rasa sakit secara emosi atau menekan rasa sensitif yang terpendam akibat trauma tadi. Jika trauma ini dihilangkan melalui terapi, maka perilaku homoseksual yang ditimbulkan juga akan hilang. This isn’t about gayness; it is about sexual abuse.
  2. Sex work/escorting. Sebagian pria straight rela melakukan hubungan seksual sesama pria dengan imbalan finansial. Meskipun pria pelaku profesi ini mampu terangsang selama hubungan seksual, mereka terangsang bukan karena pasangan prianya namun karena kegiatan seksual itu sendiri. Dalam bisnis pornografi dan industri seks, biasanya pria straight mendapatkan bayaran lebih besar jika mereka melakukan hubungan seks sesama pria ketimbang lawan wanita.
  3. Kelompok ketiga adalah pria-pria heteroseksual yang mempunyai ketertarikan kuat untuk melakukan aktifitas seksual yang ‘agak memalukan’ jika dilakukan dengan wanita. Misalnya melakukan peran sex bondage atau keinginan untuk dipenetrasi menggunakan dildo dan lain-lain. Akhirnya mereka melarikan keinginan ini dengan sesama pria atau pria gay yang akan dengan senang hati menjalankan fantasi mereka tanpa perlu merasa dihakimi dan dipermalukan.
  4. First sexual experience.Sebagian pria straight ternyata pernah melakukan eksperimen seksual sesama pria, biasanya terjadi di masa remaja dan ini dilakukan hanya terdorong rasa penasaran dan ingin tahu belaka. Namun perilaku ini tentu saja tidak berlanjut.
  5. Availability/opportunity. Kelompok pria straight ini memiliki nafsu seksual yang sangat tinggi dan sangat mudah terangsang. Merekapun memilih melampiaskan hasrat seksual yang menggebu dengan cara yang paling mudah yaitu melakukan hubungan seksual sesama pria yang dapat dilakukan dengan gampang dan cepat tanpa perlu ada ikatan emosi dan tetek bengek lainnya jika ingin melampiaskan nafsu mereka dengan wanita.
  6. Father hunger. Kelompok pria straight yang sangat mendambakan perhatian dan kasih sayang seorang ayah. Berhubungan seks dengan pria yang lebih dewasa seakan-akan menjadi cara mereka mendapatkan perhatian yang didambakan.
  7. Kemudian ada sekelompok pria heteroseksual yang memiliki ketertarikan romantik terhadap wanita. Mereka juga berhubungan dengan pasangan wanita termasuk melakukan hubungan seksual. Namun selain itu mereka juga merasakan rangsangan keinginan yang kuat untuk melakukan seks dengan sesama pria.
  8. Narcissism. Kelompok pria yang mengagumi diri sendiri secara berlebihan. Mereka selalu menginginkan perhatian dan pengakuan ekstra dari lingkungan. Untuk itu mereka menggunakan hubungan seksual sesama pria sekedar untuk memuaskan naluri mereka dengan perasaan bahwa mereka sangat diinginkan dan dipuja secara berlebih.
  9. Sexual addiction. Ketagihan seks yang akut juga dapat memicu perilaku gay para pria straight.
  10. Cuckolding. Ini adalah sekelompok pria straight yang menikmati fantasi ataupun menyaksikan pasangan wanita mereka berhubungan seks dengan pria lain. Baik dilakukan di hadapan atau cukup sepengetahuan mereka saja. Jenis pria ini sangat terangsang oleh perasaan dimana pasangannya dipuaskan oleh pria lain yang mungkin memiliki keperkasaan yang lebih dibanding dirinya. Atau sebaliknya ada pria yang menikmati hubungan seksual dengan wanita yang sudah memiliki pasangan dimana pasangan si wanita menyaksikan atau mengetahui hubungan seks tersebut. Dua jenis pria ini kadang terlibat aktifitas seksual saling menyentuh dan meraba, tentunya dengan kehadiran salah satu pasangan wanita.
  11. Exhibitionism: Kelompok pria straight yang terangsang ketika tubuh mereka menjadi perhatian dan diidolakan baik oleh wanita ataupun pria. Banyak pria berotot ataupun bodybuilder yang menikmati ketika tubuh terbuka mereka menjadi pusat perhatian homoerotik dari pria gay. Mereka bahkan cenderung membuka diri terhadap flirting yang dilakukan pria gay sekedar mendapatkan perasaan sedang dikagumi.
  12. Kelompok terakhir adalah para pria straight penghuni penjara. Melakukan pelampiasan seksual sesama pria menjadi satu-satunya pilihan. Namun begitu bebas biasanya mereka tidak melakukannya lagi.

Tentu saja daftar diatas hanya sebagian penyebab atau alasan kenapa pria straight melakukan hubungan seksual sesama pria. Yang paling penting adalah bagaimana memberikan informasi yang tepat kepada pria-pria yang terlibat hubungan seksual sesama pria. Apakah perilaku ini disebabkan karena orientasi homoseksual dan biseksual sejak lahir, atau karena penyebab lain seperti pengalaman pelecehan seksual, ketagihan seks, gangguan kejiwaan atau faktor lain yang dapat menjadi pendorong.

Namun bagaimanapun, semua kembali pada diri masing-masing. Seorang pria yang tertarik atau pernah melakukan hubungan seks sesama pria berhak menentukan sendiri apakah ini adalah awal dari jati dirinya yang sebenarnya atau hanya ekspresi yang ditimbulkan oleh faktor lainnya. Atau sekedar pengalaman sekali seumur hidup karena rasa ingin tahu belaka, dan tidak lebih. Seperti Freud sering berkata , “Sometimes a cigar is just a cigar!

Sumber : http://www.malezones.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s