Inilah Pekerjaan yang Bisa Ganggu Kesuburan Pria


doctor1

Fertilitas (kesuburan) laki-laki dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor pekerjaan yang dilakukan si pria. Pada prinsipnya, faktor pekerjaan yang bisa memengaruhi infertilitas laki-laki yakni faktor kimia, fisika, psikologi dan campuran.
“Faktor kimia misalnya pajanan logam, pestisida, atau pengencer misalnya pengencer cat. Kalau faktor fisika di antaranya radiasi dan pajanan panas. Kalau sperma mau bagus suhu di testis harus 3-4 Celcius lebih rendah dari suhu normal tubuh. Kalau lebih panas produksi sperma bisa terganggu,” kata dr Kasyunnil Kamal, MS SpOK.

Sementara, faktor psikologi bisa memengaruhi kesuburan pria melalui stres. dr Kasyunnil mengatak, peningkatan stres berhubungan dengan volume air mani, serta jumlah dan bentuk sperma. Hal itu ia sampaikan dalam media gathering di RS Bunda, Jl Teuku Cik Ditiro, Jakarta, Jumat.

“Sementara faktor campuran misalnya pada sopir atau pengemudi profesional yang menyetir dalam waktu lama, yang terkena pajanan bahan bakar, kebisingan, getaran, stres, beban fisik pada panggul, dan peningkatan suhu di panggul karena lama duduk,” kata dr Kasyunnil.

“Misalnya seharian naik motor ke sana ke mari. Petani misalnya yang terpapar panas, kemudian terpapar pestisida, patut juga diperhatikan. Lalu tukang las yang sering terpapar panas, atau pekerja yang tubuhnya terpapar pelarut, logam berat, dan kebisingan, faktor itu bisa menurunkan kualitas dan kuantitas sperma,” kata dr Kasyunnil.

Agar pekerja seperti itu terlindungi dari pajanan bahan kimia tersebut (pestisida, logam, dan solvent-red), dr Kasyunnil merekomendasikan agar pekerja memakai seragam saat bekerja dan jangan dibawa ke rumah. Jika memang hendak dicuci, dalam proses mencucinya pisahkan dengan pakaian lain. Tujuannya, agar bahan kimia tersebut tidak mengontaminasi bahan lain di rumah.

Kemudian, perhatikan kebersihan diri. Misalnya, cuci tangan sebelum makan atau minum. Penting juga untuk mengetahui bahan kimia apa yang berisiko memajan dirinya, lalu sebisa mungkin hindari kontak kulit dengan bahan kimia tersebut.

“Untuk perusahaan juga harus memiliki Material Safety Data Sheet (MSDS) yang disampaikan ke pekerjanya. Disampaikan berapa dosis bahan kimia yang ‘bersentuhan’ dengan pekerja dan kalau berpotensi bahaya ya dilindungi pekerjanya. Ada cara prevensinya di panduan (MSDS) itu,” pungkas dr Kasyunnil.

Sumber :

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s